Sketsa cerita

“Hey, kamu memang jahat. Tak punya hati!” kata Andina. Dan aku tak bisa berkata, aku hanya diam. Ini semua memang gara-gara aku. Dan di balik kata-kata kasarnya itu menyimpan sakit yang begitu dalam. Tak hanya sakit, tapi juga kekecewaan serta kehancuran dalam hidupnya.

“Kenapa diem? kamu denger gak aku ngomong?” lanjutnya dengan nada keras menurun. Masih tersimpan rasa sakit di hatinya. Entah sampai kapan itu akan berakhir dan hilang. Aku tidak bisa apa-apa atau pun mengobatinya. “Maafkan aku” aku hanya bisa berkata itu dalam hati. “Yaa ALLAH, maaf kan aku dan dirinya. Ini semua salahku. Berilah jalan terbaik untuknya sebagai ganti ini semua”.

Dan kini, aku tak tahu kabarnya. Semoga saja baik-baik saja. Meski hatiku bertanya-tanya dan mengkhawatirkan kabarnya, apa boleh buat. Mau SMS tidak mungkin, apa lagi ke orang tuanya. Karena aku tidak mungkin untuk melakukannya, kecuali aku berniat serius dengannya. Jadi??? Aku tidak serius? Aku serius, tapi tak ada usaha. Argh, memang… Aku ini Bejat dan Pecundang cinta. Maafkan aku Andina.

Asaku

Aku hanya orang biasa
Tak ada yang istimewa
Tapi, aku menjadi berharga
Itu karena kau asa…

Namun
Kemanakah engkau
Asaku, aku ingin tetap bersamamu

Kini,
Kau jauh
Jauh, jauh dan jauh
Meninggalkanku yang diam
Diam tanpa kata
Diam tanpa tindakan
Oh, salahku memang
Asaku hilang…

Kediri, 24 Juli 2011